Archive for the Category » Cerpen «

Cinta Sederhana

jatuh-cintaffKala itu malam semakin larut, dingin menyayat raga, teman terindah adalah nyayian burung malam dan rinai merdu suara hujan langkah kakiku semakin kaku, tapi tak sedikitpun aku khawatir karena ku tahu  dirimu selalu ada untuk  menemaniku sepanjang perjalanan ini. Meski peluk tak selalu bisa terdekap, namun aku bisa merasakan hal yang sama untuk menjaga setia.

Hujan kala itu menyakinkanku semuanya akan baik-baik saja, saat kita merasakan betapa bahagia berada disini diantara milyaran manusia.  Aku tahu banyak hati diluar sana yang bisa menjadi pilihanmu, bisa menemani sepimu, bermalam larut bersamu. cinta  sederhana adalah hal yang luar biasa, aku memilih tuli, aku bisa memilih buta untuk cinta yang tak bersyarat karena untukmu cinta bukanlah perkara siapa yang lebih superior dari siapa, cinta adalah perkara komitmen membahagiakan.

Cinta sederhana meski hati tak sesederhana cinta. katamu tak perlu memikirkan hal tersulit dalam sebuah kenyamanan, katamu cinta sederhana selalu memiliki ruang berbicara dan berdiskusi soal apa saja, menerima dan memberi tanpa membenarkan diri masing-masing, cinta sederhana bukanlah ego teritorial  dan untuk yang satu itu terlalu sulit ku telaah, tapi tak mengapa karna aku selalu menanti setiap kata yang terlontar darimu. more »

Permintaan Hati

Delapan tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk terus bertahan dalam arus kegamangan hidup yang akhirnya berlalu sia-sia. Itu karena kebodohanku untuk membayar mahal apa yang telah kuperbuat. Banyak mimpi yang harus kukorbankan dan banyak luka yang telah kutoreh. Dan tak akan pernah cukup air mataku untuk mengembalikan semuanya sesuai yang kumau. Waktu takkan bisa kuputar kembali.

“Delapan tahun!” ucap Mbak Lisa. “Bukankah itu waktu yang panjang tuk mematikan kreatifitasmu?” sambungnya. “Iyaa…” jawabku, tanpa sadar air mataku membasahi kedua pipiku. Air mata ini akhirnya menipiskan sapuan halus bedak di pipiku hingga nampak tak rata lagi. “Itulah kebodohanku Mbak, dan aku tak ingin lagi merasakan bagaimana perihnya berkorban dan terkurung dalam pilihan yang olehku tak dapat kupilih”. Sejenak aku berdiam, mencoba mengatur nafas yang sudah tak beraturan. “Janganlah terlalu mencintai laki-laki dan larut dalam cinta sehingga membutakkan segalanya, tanpa mengindahkan logika” sambungku.

Di luar sana matahari seolah enggan beranjak dari peraduannya, kota ini begitu panas. Mbak Lisa mengajakku untuk mencari sesuatu yang dapat mencairkan suasana. “Ayolah Nindy, kita ke cafe seberang jalan” ajaknya. Tapi kaki ini seolah tertahan, begitu nyaman berada di ruangan ini. Kurogohkan tangan kedalam tasku lalu kukeluarkn sebatang coklat. Kusodorkan kepadanya sambil berkata “Mbak, coklat ini mampu mencarikan suasana, mampu melumerkan syaraf dan pemikiran yang berat”. Mbak Lisa menerimanya dengan senang hati dan memakannya. more »