Melepasmu

sorrowDadaku penuh sesak dengan kecemburuan.
kecemburuan yang sebenarnya tidak berhak ada dan tidak boleh ada. perasaan-perasaan konyol yang muncul karena rasa ingin memiliki yang terlalu padahal berulang kali aku sudah berjanji, kepadamu aku tak mau memiliki. kamu bukan benda. kamu manusia. aku mencintaimu sebagai manusia, sebagai sesosok individu yang memiliki kehendak merdeka dan punya
hak untuk ada. Aku tak mau menjadikanmu lebih rendah dariku dengan melabelimu milikku.

aku menginginkanmu untukku sendiri, ini egois, aku
ingin membebaskanmu. aku sudah pernah berjanji
bukan? dalam hubungan ini aku tak menuntutmu
bersetia, aku menuntutmu bahagia.
aku menyadari diriku sendiri, siapalah aku yang
menginginkanmu untuk diriku sendiri, siapalah aku
yang hendak memaksamu tunduk.
ini bukan perkara siapa yang lebih superior dari siapa.
ini perkara komitmen membahagiakan, dan kepadamu
yang aku cintai dengan parang di hulu leherku, aku tak
bisa memaksa.

Perasaanku dipenuhi dengan kemarahan, dipenuhi
dengan amarah, dan sesak oleh kedengkian. aku
mencintaimu dengan segala kelemahanku, yang
sialnya adalah sifat cemburu yang dibakar amarah.
aku menginginkanmu sekarang, saat ini, untuk selalu
ada. mengecup keningmu lantas berkata bahwa
semuanya baik-baik saja. aku ingin menggandeng
tanganmu, menatap lekat matamu lalu diam. sekedar
diam dan menyigi nasib kita masing masing dalam
kesunyian.

Ini bukan perpisahan. ini pamit akan sebuah jarak yang
harus kita ciptakan agar tetap waras. Tidak perlu ada drama yang dibesar-besarkan. ini sikap orang beradab yang memahami kalau cinta itu bisa jadi sekedar dorongan impulsif hormon. Tentu aku ingin memilikimu, mendekap erat kamu, dan berpelukan hingga pagi tiba seperti dulu. tapi aku tahu kamu tak mau, dan aku sadar aku tak bisa. ini adalah permohonan pamit, bukan sebuah perpisahan.
peristiwa ini jangan kamu terjemahkan sebagai sebuah pedih. karena kamu dan aku tahu, segala yang asing
telah kita resapi sebagai percakapan tentang kegilaan masa muda. tentu ada ngilu saat aku mengingatmu begini.

Tentang sajak-sajak yang tak selesai, catatan akan
kenangan, rasa rindu, atau bahkan perbincangan
mengenai filsafat ruang yang memakan energi terlalu
banyak daripada yang diperlukan.
tapi bukankah ini yang membuat kita saling jatuh cinta sayangku? tentang kita yang selalu mencoba merumuskan masa depan. namun waktu meningkahi kepongahan kita atas rencana-rencana yang kita bisikan pada Tuhan, yang tentu saja ia tertawakan. kita pernah sangat bahagia, aku menghirup wangi rambutmu, berbekas lama. Menelusuri lekuk lehermu, berbagi beban dan kisahmu. juga tentang ketakutan-ketakutan yang tidak kita pahami
keberadaannya.
maka ada baiknya segala kegelisahan ini kita akhiri saja. karena serupa mazmur yang berakhir pada pasal-pasal pengampunan. aku menunggumu untuk bahagia, dengan menjaga jarak ini.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>